0
contoh berita feature
Posted by Unknown
on
6:20 PM
MENCARI ENYI DALAM TIMBUNAN
LUMPUR
Kamis, 25 Februari 2010 | 03:28 WIB
Pandangan Umar
(54), warga Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa
Barat, menyapu deretan nama yang dipasang di masjid RW 18. Ke-43 nama itu
merupakan daftar nama korban longsor yang terjadi pada hari Selasa (23/2). Ia
menemukan nama istrinya, Enyi (50), dalam daftar itu di urutan ke-11 dan belum
dilingkari. ”Itu berarti jenazah istri saya belum ditemukan dalam timbunan
longsor,” ucap Umar lirih dan parau.
Papan nama yang
dipasang di masjid Kampung Cimeri, Desa Tenjolaya, menjadi rujukan warga yang
mencari tahu nasib sanak saudara mereka. Di dalam masjid, jenazah yang sudah
ditemukan disemayamkan sementara untuk kemudian dibawa keluar menggunakan
ambulans.Umar tampak terpukul sekali oleh musibah longsor tersebut. Ia
kehilangan belahan hidupnya dalam
sekejap saat retakan di bukit ambruk dan menimbun 21 rumah yang dihuni pekerja
Perkebunan Teh Dewata itu. Yang membuatnya lebih tertekan, ia menyaksikan
sendiri saat-saat terakhir lumpur meluluhlantakkan perumahan pekerja, salah
satunya adalah yang ditinggali istrinya.
Bapak enam anak
ini pun mengisahkan, ia berada 50 meter dari lokasi saat longsor terjadi pada
pukul 08.00. Disertai bunyi dentuman, dia melihat lereng bukit terkupas dan
merosot jatuh mendekati permukiman kebun teh. Saat itu, longsoran belum
mengenai permukiman warga. Umar dan beberapa karyawan lain yang melihat hal ini
segera berteriak memperingatkan warga yang ada di permukiman untuk segera
menghindar. Dari kejauhan, ia melihat istrinya sempat keluar rumah, tetapi
kemudian masuk kembali. ”Belum sampai 15 menit setelah longsoran pertama,
terjadi longsoran yang lebih besar yang menimbun seluruh permukiman,” ujar Umar
murung. Tidak tanggung-tanggung, lumpur dengan ketebalan lebih dari tiga meter
langsung menimbun permukiman itu hingga mencapai atap. Sebanyak 21 rumah warga,
lima bangunan milik kantor perkebunan, dan satu masjid hancur. Lumpur juga
memutuskan jaringan listrik ke Kampung Cimeri.
Namun,
setidaknya Umar masih bisa bernapas lega. Anaknya paling bungsu, Novita Sri
Rahayu (8), selamat dari longsor. Novita saat itu tengah bersekolah di lokasi
yang berjauhan dengan permukiman penduduk sehingga terhindar dari maut.
Sayangnya, kebahagiaan yang sama tidak bisa dirasakan Administratur Perkebunan
Teh Dewata, Irvansyah. Anaknya, Alfart (3), menjadi korban karena sedang berada
di rumah bersama pengasuhnya, Ida (35). Keduanya hingga kini belum ditemukan.
Kesedihan juga
dirasakan Anton Sutisna (39), Ketua RT 08 RW 18, Desa Tenjolaya. Lelaki yang
sudah 27 tahun bekerja di Perkebunan Teh Dewata itu kehilangan dua anggota
keluarganya, yakni keponakannya, Neni (26), dan ibunya, Mak Enah (60). Ia juga
menyaksikan sendiri rumah ibunya tertimbun longsor. Saat itu, Anton baru saja
hendak berangkat ke lokasi perkebunan. Sejak Selasa malam, Anton mencari
keponakan dan ibunya. Baru Rabu, sekitar pukul 10.00, Neni ditemukan. Kelegaan
dan kesedihan mendalam terpancar dari wajah Anton.
Setelah
bapaknya meninggal, Anton adalah kepala keluarga. Rabu siang itu juga, Anton
mengantarkan jenazah Neni kepada orangtuanya. ”Bapak-ibunya sudah menunggu di
Ciwidey. Neni mau dibawa ke Tasikmalaya,” katanya menahan tangis. Setelah Neni,
Anton masih harus mencari keberadaan ibunya, hidup atau mati. Meskipun
kesempatan hidup semakin menipis karena sudah dua malam tertimbun, Anton tidak
patah arang. ”Saya harus tetap menemukan emak…,” tuturnya.
Kompas
menumpang ambulans yang mengantarkan jenazah Neni (26) menuju Ciwidey.
Sepanjang perjalanan, ambulans yang ditumpangi beberapa kali dihentikan warga.
”Agus… ada Agus di sini? Tanya salah seorang warga yang tampak kebingungan
menghentikan ambulans. ”Agus? Teu aya kang… ieu teh Neni (enggak ada kang, ini
Neni).” Mengetahui jenazah itu bukan Agus, warga tersebut tampak kecewa.
Pemandangan indah
Kampung Cimeri
yang berpenduduk 1.000 jiwa itu berada di kaki Gunung Tilu dan berbatasan
dengan Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut. Untuk mencapainya, harus menyusuri
jalan berbatu sepanjang 32 kilometer selama tiga jam. Sesekali kita akan
melintasi jalan bergelombang dan kubangan lumpur.
Namun, begitu
memasuki daerah Perkebunan Teh Dewata, terlihat bahwa Kampung Cimeri memang
memiliki pemandangan yang sangat indah. Kampung itu berada di sebuah cekungan
yang menjadi dasar bukit-bukit berisi barisan tanaman teh yang mengelilinginya.
Aliran sungai yang deras juga berhasil dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin
dan menghasilkan listrik untuk permukiman tersebut. Hanya saja, longsor yang
terjadi pada hari Selasa itu ternyata membuka kenyataan lain mengenai Kampung
Cimeri. Permukiman itu berada tepat di daerah rawan bencana. Itu pun terbukti
saat tebing gunung yang retak ambruk dan menimpa permukiman di bawahnya.
Wakil Gubernur
Jawa Barat Dede Yusuf menjelaskan, pihaknya hingga kini masih menyosialisasikan
mengenai daerah rawan bencana kepada pemerintah kabupaten hingga desa.
Alasannya memang kuat, semua wilayah Jawa Barat, terutama daerah selatan, rawan
longsor karena berupa perbukitan. Longsor di kawasan itu seolah menutup cerita
manis keelokan Kampung Cimeri.(eld/rek)
Post a Comment