0

Bacaan Berita ditugas MID di rubah menjadi berita news feature

Posted by Unknown on 6:21 PM


Hari Senin, (31/3) pukul 14.00 WIB, dilaksanakan kampanye di lapangan Pancasila, Jakarta. Merekan berombongan keliling kota. Ada 50 – an sepeda motor ikut dalam konvoi itu. Di Jl. Gatot Subroto, 20 – 1n polisi bersenjata pentungan mengadang. Terlihat pula lima polisi membawa senjata laras panjang. Ketika rombongan konvoi sampai tikungan Jl. Gatot Subroto, polisi langsung menggiring peserta konvoi ke sebuah lapangan kecil. Jalan diblokir. Polisi lalu lintas menilang mereka yaitu yang tidak memakai helm, tidak membawa surat – surat kendaraan, atau ada perlengkapan seeda motor yang dicopoti. Pengendara yang tidak melanggar, diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Motor yang melanggar atauran, dikumpulkan di pojok lapangan. Ada 15-an sepeda motor terjaring razia.
Ada peserta konvoi yang berusaha melarikan diri dari razia. Namun, seorang polisi sigap. menarik kerah seorang pengendara itu. “ Hei, mau ke mana kamu !” ujar polisi itu. Anas dan Mahfud terjaring razia. Anas ditilang karena knalpot tak sesuai standar. Anas juga belum memiliki SIM. Keduanya berboncengan. Keduanya tidak memakai helm. Anas di depan, Mahfud di belakang. Knalpot sepeda motor Anas dimodifikasi sehingga mengeluarkan suara memekakkan telinga. “ngeng,ngeng, ngeng, ngeng,” demikian suara motor itu. Anas memainkan gas, menarik gas berkali – kali. Suara makin kencang. Pengguna jalan lain memilih menjauhi rombongan itu.
Anas dan Mahfud, dua remaja tanggung. Anas berumur 16 tahun, Mahfud berumur 17 tahun. Anas adalah pelajar. Dia sedang gundah. Dia tidak kerasan di rumah.” Orang tua saya sering bertengkar. Pusing aku kalau di rumah,” ujar dia. Mahfud lulusan SMP. Dia tidak melanjutkan ke SMA karena tak punya biaya. Keluarganya memulung.
Ketika ada kampanye sebuah partai politik, keduanya diajak oleh tetangganya untuk ikut. Keduanya mengenakan kaos bergambar calon anggota legislative (caleg) sebuah partai. Keduanya belum memiliki hak mencoblos. Anas dan Mahfud pulang ke rumah mereka di Kelurahan Makassar, Jakarta Timur, dengan naik bus. Sesampai di rumah, Anas dimarahi orang tuanya. Baak harus mengikuti sidang pekan depan. Sepeda motornya di kantor olisi. Dia tidak bisa ke kantor mengendarai sepeda motor. Dia terpaksa ke kantor menggunakan Trans Jakarta.
Pakar psikologi dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Sadly Musa, berpendapat remaja yang berkonvoi sepeda motor dengan menggeber motor sehingga bersuara superkeras itu berusaha melupakan masalah yang mereka hadapi. Dia mengatakan bisa saja mereka suntuk di rumah. Ada yang memiliki masalah keluarga, broken home, kemiskinan, beban berat di sekolah dan sebagainya. “ Kampanye ini jadi katarsis atas permasalahan mereka. Ini pelampiasan sesaat. Mereka adalah korban dari problematika hidup, “ ujar dia di kampus UI, Depok “.

0 Comments

Post a Comment

Copyright © 2009 Anik Ricka Nur Arofah All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.